Kemenangan mulimin

Allah Sudah Menentukan Kemenangan Kaum Muslimin


Magdalena - Rabu, 21 Rajab 1438 H / 19 April 2017 15:30 WIB


Sejarah Islam mencatat kemenangan gemilang kaum Muslimin di masa lalu di berbagai kondisi di mana orang-orang menganggap Muslimin akan pesimis akan menang. Semuanya itu, menurut Syaikh Anwar Al-Awlaki, seorang da'i warga negara AS keturunan Yaman, tidak terjadi begitu saja tetapi karena Allah 'Azza wa Jalla memang Mengutip para muslimin.


Menurut Al-Awalaki, cepat atau lambat Allah swt akan memberikan kejayaan bagi umat Islam, dan untuk meraih kemenangan bahwa Allah swtembuat keunikan sebagai ujian bagi keimanan kaum Muslimin. Oleh sebab itu, Al-Awlaki dalam dakwahnya menyerukan umat Islam untuk tidak takut dan tidak mudah putus asa dalam melawan berbagai musuh dan musuh dari musuh-musuh Islam.

Terkait hal ini, Al-Awlaki mengungkap sejumlah peristiwa-peristiwa besar yang dilakukan oleh kaum Muslimin yang membuktikan bahwa Allah swt merupakan sebuah kemenangan yang gemilang bagi kaum Muslimin yang beriman teguh dalam berbagai tindakan, masa dari masa dakwah Rasulullah sampai era Perang Salib.

Kemenangan Dakwah Rasulullah

Masa-masa awal dakwah Islam yang dilakukan Rasululah di kota Makkah, menjadi masa-masa yang terberat yang menelusuri Rasulullah Muhammad Saw. Tiga belas tahun Rasulullah berdakwah di Mekkah, namun tetap mendapat manfaat dari kaum kafir Makkah dan hanya sedikit yang mau memeluk agama Islam. Sehingga Rasulullah berinisiatif untuk memperluas dakwah sampai ke Ta'if, di negeri ini Rasulullah juga menerima perlawanan yang kasar dari mereka yang menolak agama Islam yang dibawa Rasulullah.

Sampai datanglah masa yang disebut Bu'ath.Terkait Bu'ath Aisyah rayatakan, "Bu'ath adalah sebuah hari dimana Allah 'Azza wa Jalla memberikannya sebagai hadiah bagi Muhammad saw."

Hari Bu'ath, kata Al-Awlaki, adalah hari kompilasi dua kelompok Suku-suku yang berperangaan di Madinah dan para pemimpin Kedua kelompok suku-suku yang saling bunuh, Kumpulan Negara Rasulullah mereka, kedua kelompok suku yang saling berperang itu tidak memiliki kepemimpinan (Mala) lagi , karena pemimpin-pemimpin mereka terbunuh atau terluka.

Mala, sambung Al-Awlaki juga sebutan untuk orang-orang yang bertujuan para Ambiya, yang mengisi Islam. Kelompok itu terdiri dari orang-orang yang mengambil keuntungan dari status quo dan misi mereka, mereka meningkatkan dakwah para Ambiya yang memang ingin melucut- kan kekuatan mereka dan juga dengan dana yang sesuai ajaran al-Quran, yaitu konsep kekhalifahan.

Dalam konsep kekhalifahan, semua warga negara adalah sama dan khalifah yang dipilih di antara mereka, adalah khalifah yang hanya dipilih untuk menenggakan hukum-hukum Allah swt dan bukan hukum atas tujuan pribadi orang yang sama. Itulah sebabnya, seorang khalifah disebut Mas'uul yang berarti seseorang yang akan dimintai pertanggungjawabannya di Hari Kiamat.Mengingat tanggung jawab yang sangat besar, menjadi khalifah bukan posisi yang diminati banyak orang, kecuali mereka yang memiliki kualitas yang sempurna sebagai seorang Muslim dalam menegakkan hukum-hukum Allah swt.

Karena tanggung jawab yang besar sebagai khalifah, seorang Umar bin Khattab pernah mengatakan, "Saya tidak ingin dua anggota keluarga saya menambah posisi pada Hari Pengadilan nanti."

Yaum al-Bu'ath adalah persiapan tidak lagi kepemimpinan. Itulah sebabnya, Ansor berhaji ke Makkah dan mereka membahas tentang sosok Rasulullah Muhammad saw, kaum Ansor mengatakan, "Ayo kita bawa laki-laki ini ke kampung halaman kita dan semoga Allah menyatukan kita semua melalui laki-laki ini."

“Mereka (kaum Ansor) kehilangan arah, hilangnya sosok pemimpin. Subhanallah, manusia tanpa sosok bayangan tidak akan bisa bertahan. Manusia butuh seorang pemimpin dalam kondisi baik dan buruk.Dalam kubu kebaikan ada kepemimpinan, begitu juga kubu syaitan. Sudah menjadi sifat alamiah manusia, mereka butuh seseorang sebagai penunjuk jalan, ”tulis al-Awlaki.

Kemenangan Pasukan Islam Menaklukan Persia

Contoh lain yang membuktikan bahwa Allah swt telah menyediakan bagi kaum Muslimin adalah membuat Umar bin Khattab mengirim pasukannya untuk melawan kekuatan imperium Persia. Pemimpin pasukan Muslim, Abu 'Ubaida ath-Thaqafi adalah sosok yang pemberani, namun harus menghasilkan kekalahan dalam perang al-Jisr melawan pasukan Persia. Setengah dari pasukan Muslim terbunuh dalam perang tersebut.Sementara pasukan Persia merayakan kemenangan mereka dan berpikir bahwa mereka bisa menyelamatkan kaum Muslimin di daerah-daerah yang sebelumnya berhasil ditaklukkan pasukan Muslimin.

Tapi, dalam buku At-Tarikh al-Islami, penulisnya Mahmud Shaakir menyatakan, “Allah bersama orang-orang yang beriman.” Jika kaum Muslimin memenuhi syarat untuk menang, maka mereka akan mencapai kemenangan, atau tidak banyak. sedikit, tanpa harus melihat apakah mereka memiliki senjata seperti bom atau tidak. Persoalannya bukan dari sisi jumlah atau kecanggihan senjata. Tapi perkembangannya adalah apakah kaum Muslimin memiliki keimanan yang teguh. Sepanjang seorang Muslim memiliki keimanan yang tidak mudah goyah, Allah “Azza wa Jalla akan memberikan kemenangan bagi Muslim itu, seperti yang telah dijanjikan Allah swt dalam firmannya di surah Al-Hajj ayat 38,“ Sesungguhnya Allah bagi orang yang beriman. ”

Keimanan yang kuat, persyaratan yang dibutuhkan untuk mendapatkan pertolongan Allah swt. Jika kaum Muslimin yang beriman tangguh berada dalam kesulitan, maka hanya Allah swt yang akan menolong mereka keluar dari kesulitan itu.

Lantas apa yang terjadi setelah kemurahan pasukan Persia atas kaum Muslimin? Persia malah terlibat dalam pertempuran antar para pemimpinnya. Pasukan Persia terpecah menjadi dua kelompok yang saling bertikai.Jenderal Persia yang ditunjuk untuk mengakhiri pasukan Muslim ke dalam Persia untuk mengatasi pertikaian di dalam negeri Persia. Umat ​​Islam yang menghadapi ancaman "pembersihan" secara permanen dari bangsa Persia, kini bebas dan kekhalifahan Islam punya cukup waktu untuk mengerahkan kembali pasukannya guna mengalahkan pasukan Persia. Peristiwa ini menjadi bukti, kompilasi situasinya nampak menjadi tidak menguntungkan bagi kaum Muslimin, pada saat itu Allah swt membebaskan bagi kaum Muslimin.

Kemengan Kaum Muslimin dalam Perang Salib

Peristiwa lain yang tak kalah dashyatnya, yang menjadi momen kemenangan gemilang kaum Muslimin adalah tayangan Perang Salib, dimana pasukan Islam saat itu berada di bawah komando Salahuddin Ayyubi.

Salahuddin menyisahkan para amir di seluruh Tanah Suci dan memimpin melawan Pasukan Salib dari Roma yang menguasai seluruh wilayah pantai Palestina, termasuk kota Yerusalem dan kota-kota lain di Palestina, serta wilayah al-Sham (yang terdiri dari wilayah Yordania, Suriah, dan Libanon).

Namun sebagian tokoh ulama Islam saat itu menilai Salahuddin untuk melawan penjajahan kaum Romawi di bumi Islam sebagai keinginan yang gila, mengingat kuatnya posisi kaum Romawi dengan negara-negara Eropa. Suara Muslim yang terpecah antara yang mendukung dan tidak mendukung perjuangan Salahuddin.

Salahuddin tidak gentar, dengan bekal rasa tawakkal pada Allah swt ia tetap memimpin dengan jumlah yang tidak sebanding jika dibandingkan dengan kekuatan pasukan Salib. Meski demikian, pasukan Salahuddin sedikit demi sedikit berhasil merebut kembali wilayah-wilayah yang dikuasai pasukan Salib.

Puncak Perang Salib, adalah Perang Salib, Komplotan Komplek Panggul Memobilisasi Kekuatan dari Seluruh Dunia untuk melawan pasukan Muslim pimpinan Salahuddin. Tidak tanggung-tanggung, Raja dari Inggris, Prancis dan Jerman yang ditunjuk langsung untuk melawan pasukannya masing-masing. Jika dijumlahkan, pasukan dari pihak kerajaan itu sangat besar. Pasukan yang dipimpin Raja Frederick Barbarossa dari Jerman saja, diperkirakan tajam 300.000 orang. Saking nilai jumlah pasukan, kapal-kapal perang tidak bisa mengangkut pasukan-pasukan ke Eropa dengan pasukannya, pasukan Inggris dan Prancis dikirim lewat laut dan pasukan Jerman dikirim lewat darat.

Jumlah pasukan Salib yang besar, lagi-lagi membuat sebagian hari kaum Muslimin tidak bisa lagi jadi anggota dari Salib. Diantara mereka, bahkan ada yang mundur dari Jihad melawan pasukan Salib, dan ironisnya, di antara mereka yang dibalikkan para ulama.

Tentang hal ini, Ibnu Athir mengatakan, “Mereka datang pada kami lewat darat dan laut. Beredar kabar di kalangan Muslimin bahwa Raja Jerman datang dengan kekuatan 300.000 pasukan dan mereka datang dari arah Utara. Sultan-sultan Muslim dan kaum Muslimin menjadi khawatir dan takut. Dari babak ulama banyak yang bersiap-siap untuk kembali berjihad ke al-Shaam, tapi banyak juga antara ulama yang menarik karena takut jumlah tentara Prancis yang sangat banyak. ”

Dari sini bisa ditarik sebuah Pelajaran yang penting bahwa ulama tetap sosok yang sempurna, mereka bukan Ambiya. Karena itu, jika ada Muslim yang menjadi buta menjadi pengikut seoran ulama, tidak ada bahwa para ulama itu akan membawa pengikutnya ke jalan yang benar.

Seperti halnya saat ini, posisi ulama tidak lagi ditentukan oleh standar yang harus mereka gunakan tetapi kadang-kadang disebut ulama dari tampil di televisi. Menciptakan ulama kapan saja layaknya seorang selebritis.

Dahulu, kata al-Awlaki, seseorang baru bisa disebut alim ulama jika sudah mendapatkan pengakuan dari ulama yang menjadi guru orang yang mengatakan. Berbeda dengan zaman sekarang, dimana seseorang bisa tiba-tiba menjadi alim ulama karena ditunjuk sebagai alim ulama oleh pemerintah, dan ia menjadi terkenal karena sering tampil di berbagai stasiun televisi, radio dan acara berbagai acara, meskipun keilmuannya tentang agama Islam masih belum memenuhi standar.

Kembali ke acara Perang Salib, Ibnu Athir memanggil para ulama yang lari dari jihad melawan pasukan Salib sebagai ulama pengecut, ulama yang menggunakan dalil-dalil agama untuk mencari pembenaran atas sikap pengecutnya, ulama yang memutarbalikkan ayat-ayat Allah dan hadis seolah-olah ayat- ayat dan hadis itu adalah hukum Islam yang sebenarnya. Padahal jihad itu adalah ujian Allah 'Azza wa Jalla hanya bagi para ulama dan Salahuddin tetapi juga ujian bagi umat Islam.

Seperti Allah menyoroti Nabi Musa dan Bani Israel saat terhalang Laut Merah kompilasi dari kejaran Firaun. Ada sebagian Bani Israel yang menuding Nabi Musa telah berbicara dan tidak mampu menyelamatkan mereka dari kejaran Firaun. Namun Allah swt membuktikan pertolongannya dengan memerintahkan agar Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke udara lau, sehingga terbelahkan Laut Merah yang menjadi jalan bagi Nabi Musa dan pengikutnya untuk menyelamatkan diri dari Firaun.

Kondisi yang mirip sama dialami pasukan Raja Frederick Barbarossa. Ada beberapa versi yang menceritakan tentang nasib pasukan itu, salah satunya yang menyebutkan bahwa pasukan Barbarossa dihadang sungai yang sangat luar biasa dinginnya. Raja Barbarossa yang saat itu berusia sekitar 70 tahun, dengan mengeluarkan pakaian, diceritakan menyeberangi sungai tapi jatuh dari udara ke udara yang dingin itu. Raja yang memimpin menjadi ratusan pasukan itu terkena serangan jantung dan tewas. Menurut Ibnu Athir, kedalaman udara sungai tidak sampai selutut Raja Jerman tersebut.

Setelah pimpinannya tewas, pasukan Jerman dikabarkan terserang berbagai penyakit pasukan Jerman yang mulai terpecah belah.Dari 300.000 pasukan, hanya seribu orang yang berhasil sampai ke wilayah 'Akka.

Sebelum berangkat dengan pasukannya, Raja Barbarossa dengan mengucapkan surat pada Salahuddin yang dengan nada arogan mengatakan bahwa ia dan pasukannya akan mengusir pasukan Salahuddin dalam waktu satu tahun. Tapi apa yang terjadi? Pasukan Barbarossa bahkan sudah kalah sebelum bertempur. Sang pemimpin pasukan Salib yang arogan dan mati di tengah perjalanan.Allah 'Azza wa Jalla tidak pernah mengizinkan pasukan Barbarossa menginjakkan kaki ke Tanah Suci. Inilah yang terjadi jika ada orang yang ingin melupakan agama Allah swt.

Ibnu Athir mengatakan, "Jika bukan karena kasih sayang Allah swt lebih besar, dengan membunuh Raja Jerman, mungkin saat ini kita akan mengatakan bahwa Mesir dan Suriah adalah negeri Muslim." Tapi Allah SWT berkehendak memberikan kemenangan bagi umatnya, berapapun jumlah pasukan musuh saat itu. Dan untuk mendapatkan kemenangan itu, Allah swtmenciptakan batang guna menguji keimanannya. (ln /anwar-alawlaki.com )

Disarikan dari tulisan Syaikh Anwar al-Awlaki. Imam Anwar al-Awlaki adalah seorang ulama kelahiran New Mexico. Orangtuanya berasal dari Yaman dimana ia tinggal selama sebelas tahun dan mulai bagian awal pendidikan Islamnya.

Imam Anwar al-Awlaki menjadi Imam masjid di Colorado, California. Kemudian ia tinggal di kawasan Washington DC di mana ia memimpin Dar Al-Hijrah Islamic Center sambil menjadi Pemuka Agama Islam di Universitas George Washington.

Imam Anwar al-Awlaki memiliki gelar S1 sebagai Insinyur Sipil dari Colorado State University, S2 di bidang Pendidikan Kepemimpinan dari San Diego State University dan sedang menekuni S3-nya di bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia di Universitas George Washington. Ia telah menghasilkan banyak seri audio populer termasuk "Kehidupan Para Nabi", "Kehidupan Akhirat", "Kehidupan Muhammad", "Kehidupan Umar bin Khattab", "kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq", "Kisah Ibnul Awka", "Konsisten di jalan Jihad ”dan banyak lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sifat musyabahah dan mubalaghoh

HASAD 2